Showing posts with label info islam. Show all posts
Showing posts with label info islam. Show all posts

Thursday, 1 January 2015

Belajarlah, Bukan Menyalahkan


KETIKA Anda bertemu atau melihat orang sukses dalam usahanya, sementara Anda belum sukses, apa yang akan Anda katakan? Apakah Anda akan berkata, “Pantas saja usahanya sukses. Orangtuanya kan pejabat.” Ataukah berkata, “Kalau dia bisa sukses, aku pasti juga bisa?” Jika Anda melakukan yang pertama berarti Anda sulit belajar dari orang lain. Anda adalah orang yang sukanya –meminjam istilahnya Tung Dasem Waringin- menyalahkan orang lain (blame), beralasan (excuse), dan menghakimi/ membenarkan (justify). Oleh Tung Jasem Waringin, ketiganya disebut BEJ.
Secara tidak sadar, banyak orang sering melakukan tiga hal tersebut, ketika ia tidak sukses atau melihat kesuksesan orang lain. Ketika usaha gagal, bangkrut, pailit, tanpa sadar ia sering menyalahkan pemerintah, lingkungan, atau bahkan menyalahkan presiden. Terkadang ia juga menyalahkan pasangan hidupnya, orangtua, ata saudara yang tidak ada sangkut pautnya dengan usahanya. Bahkan, ia menyalahkan dirinya sendiri, menyalahkan pendidikan atau seminar yang diikuti, menyalahkan umur, dan sebagainya.
Kalau tidak menyalahkan lingkungan, diri sendiri, atau orang lain, orang yang terjangkit BEJ akan berasalan ketika gagal. Misalnya, dengan berkata, “Saya kan masih muda. Masih belum berpengalaman.” Terkadang alasan ini ada benarnya, tetapi perlu diingat bahwa alasan itu tidak ada manfaatnya sama sekali. Mengapa? Sebab, alasan-alasan itu hanya akan membuat dia berhenti berusaha, berhenti belajar dan berhenti bertindak untuk menjadi lebih baik.
Orang BEJ saat bertemu orang yang lebih sukses darinya, ia akan mencibir dan berkata, “Pantas saja dia sukses, sekolahnya kan tinggi, orangtuanya saja sudah kaya, dan saudaranya banyak yang jadi pejabat.” Ia tidak menyadari dan tidak mengakui bahwa kesuksesan orang itu diperoleh dengan belajar. Nah, ketika ia dihadapkan pada contoh orang sukses yang orangtuanya miskin dan saudaranya tidak ada yang jadi pejabat, ia akan berkata, “Saya tahu kenapa ia sukses, orang miskin kan harus mempunyai daya juang yang kuat.”
Itulah pola pikir orang-orang yang tidak mau belajar. Alih-alih memikirkan pelajaran apa yang bisa dipetiknya dari orang lain yang sukses, ia justru mencari-cari alasan, menyalahkan atau menghakimi mereka. Nah, jika Anda ingin sukses, pola pikir seperti itu harus ditinggalkan. Ketika Anda merasa belum sukses, belajarlah. Ketika melihat orang lain yang lebih sukses, cobalah untuk bertanya, “Apa yang dapat saya pelajari dari kesuksesannya yang akan membuat saya lebih hebat, lebih kuat, lebih dahsyat, lebih kaya, lebih sukses dan sebagainya?” Dengan belajar, kita akan maju selangkah lebih banyak dibandingkan orang-orang yang selalu menyalahkan dan mencari-cari alasan.
Cobalah untuk bertanya kepada diri Anda sendiri dengan dua pertanyaan berikut setiap hari dan cobalah untuk emncari jawabannya.
1. Sudah belajar apakah saya hari ini?
2. Pelajaran apa yang akan membuat saya mnjadi lebih baik?
Dengan pertanyaan sederhana tersebut, dan jika Anda terus konsisten melakukan setiap hari, maka Anda akan mempunyai kebiasaan baru, yaitu kebiasaan belajar. Dengan terus belajar, apapun yang akan terjadi dalam hidup ini, kita telah memberi arti dengan menjadi orang yang lebih baik. [Sumber: Kebiasaan Orang-orang Hebat/Karya: Alvin Pratista/Penerbit: Sinar Kejora]

Bencana Akhir Zaman Terjadi Jika 15 Perkara Ini Sudah Dilakukan


PENJELASAN Rasulullah SAW mengenai bencana sering dikaitkan dengan pra-kondisi sebelum terjadinya bencana tersebut. Hadist riwayat Imam Atturmudzi, dan yang menghimpun hadis ini adalah ulama Alwalial annajdwi yang menghimpun 40 hadis yang menerangkan tentang bencana. Ketika dia metafsirkan hadis ini beliau memberi judul “Lima Kedurhakaan / Kemaksiatan yang Dapat Menyebabkan Datangnya Bencana.”
Dari Ibnu Ali bin Abi Thalib berkata, bahwa Rasulullah telah bersabda : “Bilamana umatku telah mengerjakan 15 perkara ini, maka bala bencana pasti akan turun menimpa mereka.” Sahabat bertanya., “Apa 15 perkara itu ya Rasulullah?” Rasulullah bersabda, “Bala akan datang bilamana :
1. Harta Negara hanya beredar (dipegang) di kalangan orang-orang tertentu.
2. Apabila amanah telah dijadikan sumber keuntungan.
3. Apabila zakat dijadikan hutang.
4. Bala akan datang bilamana suami menurut kemauan isteri.
5. Anak durhaka terhadap ibunya.
6. Sedangkan ia berbuat baik kepada teman sebayanya (pada kehidupan keluarga)
7. Menjauhkan diri dari ayahnya.
8. Suara-suara ditinggikan di dalam masjid
9. Pemimpin suatu kaum adalah orang yang terhina diantara mereka.(banyaknya pemimpin yang dipilih dari golonganya sendiri dengan dalih kebenaran menurut golongan mereka sendiri).
10. Seseorang dimuliakan karena ditakuti kejahatannya.
11. Khamer / arak (minuman beralkohol) sudah diminum segala tempat.
12. Kain sutra banyak digunakan oleh kaum laki-laki.
13. Penyanyi disanjung-sanjung.
14. Musik banyak dimainkan.
15. Generasi akhir umat ini melaknat / menyalahkan generasi pertama yakni para sahabat radiallahu anhum ajmain.
Akhir dari sabda Rasulallah SAW adalah : “Maka hendaklah mereka menanti angin merah atau gempa bumi atau mereka dirubah menjadi mahluk yang lain apabila mereka telah melakukan 15 perkara tersebut.”

Tuesday, 30 December 2014

Malam Pertama di Alam Kubur



Segera Menikah Itu Lebih Baik


INGAT ya segera! Saya ulangi se-ge-ra. Kalau segera bukan berarti buru-buru dan tergesa-gesa. Karena terburu-buru dan tergesa-gesa adalah perbuatan setan, jelas beda ya segera dan terburu-buru.
Ada pertanyaan yang lucu nih. Ada yang update di bbm saya seperti ini, “Aku tuh pengen punya pacar tapi serius bukan main-main.” Yang update kebetulan perempuan. Hei, kemana aja Neng? Yang namanya pacaran itu pasti main-main bukan serius namanya juga pa-ca-ran, bohong-bohongan gak mungkin seriusan. Kita sebagai manusia jangan terlalu bodoh akan hal itu. Yang namanya serius itu ketika ada yang datang ke rumah dan melamar, nah baru itu serius. Saya ulangi lagi se-ri-us. Masuk di akal kan?
Fenomena yang menyedihkan! Kalau tidak punya pacar dianggap tidak laku, kalau punya pacar dianggap laku apalagi kalau ganti-ganti pacar.Astaghfirullah, ini pikirannya kemana sih? Ya, wajar jika akhirnya galau, akhirnya nangis, dan yang parah sampai bunuh diri. Wah, ini lebih kacau lagi. Bahkan saya sempat mendengar seorang artis laki-laki yang bicara soal mantan, kalau mantan itu katanya sudah tidak berguna lagi, sudah jadi sampah. Ya Allah, saya merinding mendengar itu, di mana harga diri sorang perempuan? Masihkah bangga dan masihkan mau dengan pacaran? Sudah jelaslah menikah adalah solusi yang terbaik,
Sudah, sudah jangan melamun lagi yang sudah terlanjur. Yang lalu biarlah berlalu. Jadikan pelajaran dan mari tata kembali dengan perubahan kita. Kalau masa lalunya pernah pacaran, mari memperbaiki diri. Jangan ulangi lagi. Asal niat berubah karena Allah, pasti Allah akan bantu. Siap?
Jadi harus bagaimana? Ya, jika sudah ada calon, segerakan menikah. Jangan pacaran! Menyegerakan menikah itu lebih baik. Kalau sudah berniat untuk menyegerakannya, pastilah usaha kita bakalan lebih powerful lagi. Kita akan senantiasa memperbaki dan mempersiapkannya, baik dari sifatnya, sikapnya untuk menjadi seorang yang pantas menjadi imam.
Fenomena yang Aneh
Remaja zaman sekarang kayaknya aneh banget. Mengapa saya bilang aneh? Karena mereka aneh dalam berpikirnya. Ia menginginkan pasangan yang setia, yang baik, yang shaleh, yang taat agama, yang “ter”, tapi kenapa mereka terus saja mencari pasangan yang bukan mahramnya? Gak cocok dengan apa yang diinginkannya. Ia terus ganti-ganti pasangan. Aduh dimana ya pemikirannya? Alasan ganti-ganti pasangan karena ingin memilih yang terbaik. Hmmm, kayaknya ampe botak juga gak akan ketemu-ketemu, hehehe.
Apalagi kalau seorang perempuan yang mengemis-ngemis ingin pacaran, waduh udah bahaya nih. Katanya kalau sudah pacaran bisa lebih dekat selalu. Ini apa-apaan? Racunnya sudah menjalar, jelas-jelas Allah menyuruh langsung menikah saja, sudah mah berkah, dapat pahala, gak galau lagi.
Bedakan ketika pacaran kerjaannya galau melulu, padahal galau itu adalah perbuatan setan yang terkutuk. Jadi siapa saja yang galau itu temannya setan, hehehe.
Sudah tahu paran itu menggalaukan, kayanya seluruh anak muda yang meng-iyakan, namu tetap saja mereka hobi sama pacaran. Aduh, kalau sudah galau katanya harus cari lagi pasangan baru biar lupa, hihihi lebih kacau deh.
Nih, saya informasikan untuk Anda. Ketika pacaran memang indah, sangat indah, namun itu hanya berlaku sesaat, dan itu hanya bertahan beberapa bulan bahkan beberapa minggu, selebihnya malah menjadi kacau, banyak masalah-lah, banyak tuntutan-lah dan itu membuat kita semakin menciut untuk melakuka yang bermanfaat. Malah menjauhkan impian, karena tersiksa dengan pikiran, dengan keadaan. Jadi, yang ada dampaknya malahan kurus gak jelas, walhasil impian jauh tercapai, masalah bertubi-tubi datang. Kalau tidak percaya lakukan saja hal itu, dan tunggu hasil yang bisa membuat Anda RUGI. Sekali lagi R-U-G-I. Sudah mah ngebatin dengan masalah nyata dari keluarga, eh ditambah masalah dari pasangan yang sering disebut pacaran itu, bisa-bisa meledak itu otak, bener-bener habis itu badan. [Sumber: Sang Bidadari/Karya: Sendi Rizaldi Supriadi Putra/Penerbit: Hakim]

Refleksi Momentum 12 Rabi’ul Awwal


SISTEM demokrasi memposisikan keputusan manusia di atas wahyu Allah SWT. Misal, khamr yang sudah jelas keharamannya menurut Allah SWT, bisa tetap beredar (baca:halal) bila keputusan para wakil rakyat belum memutuskan keharamannya.
Padahal perkara utama yang diwahyukan kepada Rasulullah SAW adalah pengakuan bahwa hanya Allah SWT yang berhak disembah, tidak ada yang lain. Imam Ath Thabari menuliskan  “Allah SWT mewahyukan kepadaku (Nabi Muhammad) bahwa Tuhan kalian yang wajib kalian sembah dan jangan kalian persekutukan dengan sesuatu apapun adalah Tuhan yang satu, tidak ada yang kedua dan tidak ada sekutu baginya.” 4).
Muhammad Ismail menjelaskan bahwa kalimat (إِلَهٌ) secara bahasa tidak memiliki makna lain, selain hanya satu makna, yakni (المعبود) /yang disembah.5)Sehingga bagi seorang muslim, pengakuan bahwa Allah SWT sebagai Sang Pencipta semata belumlah cukup.
Pengakuan tersebut harus dibarengi dengan menjadikan Allah SWT sebagai satu-satunya sesembahan. Menjadikan Allah SWT sebagai satu-satunya sesembahan juga bermakna menjadikan Allah SWT sebagai Asy-Syari’ (Pembuat Hukum). Karena makna syirik tidaklah hanya sekedar menyekutukan Allah SWT dalam ritual semata, namun juga dalam penetapan halal dan haram. Sebagaimana sabda Rasulullah saw kepada ‘Adi bin Hatim r.a. 6):
 “Sesungguhnya mereka (para pendeta/rahib Yahudi dan Nasrani) mengharamkan yang halal dan menghalalkan yang haram kepada kaumnya. Kemudian kaumnya mengikuti mereka, maka itulah penghambaan kaum Yahudi dan Nasrani kepada mereka”  (THR. At Tirmidzi).
SELANJUTNYA Imam Ibnu Katsir menegaskan: “(Maka barangsiapa yang mengharap pertemuan dengan Tuhannya), yakni : pahala dan balasan Allah untuk orang shalih. (maka hendaklah dia mengerjakan amal shalih),  yaitu amal yang sesuai dengan aturan Allah. (dan janganlah dia mempersekutukan dengan sesuatu pun), yang dimaksud adalah hanya karena Allah semata dan tidak ada sekutu baginya. Inilah dua rukun amal yang akan diterima. Harus dilaksanakan secara ikhlash karena Allah dan secara benar sesuai aturan Rasulullah saw.7)
Penghambaan mutlak kepada Allah serta mencontoh Rasulullah SAW adalah dua syarat amal diterima oleh Allah SWT. Tentunya sebagai muslim, dua rukun amal tersebut mesti ada dalam berbagai aktifitas kita, baik yang beraspek spiritual maupun politis. Adapun penghambaan mutlak kepada Allah SWT dan meneladani Rasulullah SAW akan sempurna dengan penerapan syariah dan penegakan khilafah.
Penerapan syariah dalam sistem khilafah akan membuka kesempatan beramal shalih yang seluas-luasnya dalam berbagai bidang kehidupan. Bersamaan dengan itu pula, ia akan menutup serapat mungkin peluang manusia untuk melakukan berbagai jenis kemaksiatan. Sebagaimana apa yang dikerjakan oleh para shahabat pada tanggal 12 Rabi’ul Awwal 10 H.
Pasca Rasulullah SAW wafat, para sahabat r.a. lebih mendahulukan pengangkatan khalifah untuk menerapkan syariah, dibandingkan dengan mengurus pemakaman Rasulullah saw. Setelah Abu Bakar Ash shiddiq r.a. diangkat menjadi khalifah, kemudian kaum muslimin berbaiat kepadanya, barulah prosesi pemakaman Rasulullah SAW dilaksanakan. Inilah ijma’ shahabat yang menjadi salah satu dalil kewajiban penegakan khilafah.
Walhasil, dengan refleksi momentum 12 Rabi’ul Awwal ini, marilah kita muliakan Rasulullah SAW. Dari mulai memperbanyak shalawat untuknya sampai mengikatkan diri terhadap wahyu yang dibawanya. Yakni, dengan menerapkan syariah dalam bingkai khilafah yang sesuai manhaj Rasulullah SAW. Wallohu a’lamu bishshowwab.
aftar Pustaka :
1)      Tafsir al-Quran al‘Azhim, Ibnu Katsir, 205/5.
2)      Lihat Sirah Nabawiyyah Ibnu Hisyam; dan The Great Story of Muhammad saw.
3)      Ma’alim at-Tanzil, Al Baghawi, 212-213/5.
4)      Jami’ul Bayan fi Ta’wilil Quran, Abu Ja’far Ath Thabari, 135/18.
5)      Al Fikru Al Islamy, Muhammad Ismail.
6)      Sunan At Tirmidzi. 3095.
7)      Tafsir al-Quran al‘Azhim, Ibnu Katsir, 205/5.