Thursday, 1 January 2015

Ini Penampakan Awan Cumolonimbus?


TELAH kita ketahui bersama bahwa kerap kali orang-orang bangga dengan kata “Nasionalisme”. Banyak sekali yang terpesona dengan seruan nasionalisme atau paham kebangsaan. Kita bisa lihat negara-negara di Timur termasuk Indonesia sangat bangga akan nasionalisme karena sama-sama merasakan penjajahan Barat. Di mana Barat melecehkan kehomartan suatu bangsa, mencoreng kemuliaannya, dan menahan suatu bangsa untuk berdiri di kaki sendiri dan merdeka atas namanya sendiri. Bahkan tidak tanggung-tanggung Barat telah memeras harta dan darah orang-orang yang ada di dalam daerah jajahannya.
Para tokoh, pemimpin, penguasa, di suatu negara pasti ingin mengusir penjajah yang telah merugikan negaranya. Mereka berjuang dengan gigih tanpa takut untuk membebaskan bangsanya dari penjajah. Mereka pun berkoar, bekomentar, berorasi, dan memekikan gaung pembebasan atas nama nasionalisme atau kebangsaan.
Apa yang dilakukan para pejuang kemerdekaan itu pada dasarnya baik. Namun, akan menjadi tidak baik ketika mengutarakan bahwa Islam itu tersendiri dan fikrah nasionalisme itu sendiri. Bahkan ada pemahaman yang mengatakan bahwa seruan kepada Islam justru akan memecah belah persatuan bangsa dan melemahkan ikatan bangsa. Bukan berarti aktivis muslim dan aktivis dakwah mengatakan nasionalisme itu salah. Namun yang perlu kita ketahui juga nilai-nilai yang ada di dalam nasionalisme sendiri juga memiliki persamaan di dalam ajaran Islam. Salah satu penjelasannya ada di dalam buku Risalah Dakwah Hasan Al Banna antara lain:
1. Nasionalisme Kerinduan
Jika yang dimaksud dengan nasionalisme oleh para penyerunya adalah cinta tanah air, rindu kepadanya, dan ketertarikan pada lingkungan di sekitarnya, nasionalisme seperti ini sebenarnya sudah tertanam dalam fitrah manusia di satu sisi, dan di sisi lain diperintahankan oleh Islam. Salah satu orang yang telah mengorbankan segalanya demi akidah dan agama, adalah Bilal yang mengungkapkan kerinduan pada Makkah melalui bait-bait syiar yang lembut dan indah. Sungguh, Rasulullah SAW pun mendengar gambaran tentang Makkah dari Ushail, tiba-tiba saja air mata beliau bercucuran, karena rindu padanya.
2. Nasionalisme Kebebasan dan Kehormatan
Jika nasionalisme yang dimaksud adalah keharusan bekerja serius untuk membebaskan tanah air dari penjajah, mengupayakan kemerdekaannya, serta menanamkan makna kehormatan di dalam masyarakat, maka para mujahidin yang berjuang membebaskan tanah airnya di Palestina, Suriah, Mesir, dan dunia Islam lainnya memiliki kesamaan dan mendukung nasionalisme sejenis ini.

Belajarlah, Bukan Menyalahkan


KETIKA Anda bertemu atau melihat orang sukses dalam usahanya, sementara Anda belum sukses, apa yang akan Anda katakan? Apakah Anda akan berkata, “Pantas saja usahanya sukses. Orangtuanya kan pejabat.” Ataukah berkata, “Kalau dia bisa sukses, aku pasti juga bisa?” Jika Anda melakukan yang pertama berarti Anda sulit belajar dari orang lain. Anda adalah orang yang sukanya –meminjam istilahnya Tung Dasem Waringin- menyalahkan orang lain (blame), beralasan (excuse), dan menghakimi/ membenarkan (justify). Oleh Tung Jasem Waringin, ketiganya disebut BEJ.
Secara tidak sadar, banyak orang sering melakukan tiga hal tersebut, ketika ia tidak sukses atau melihat kesuksesan orang lain. Ketika usaha gagal, bangkrut, pailit, tanpa sadar ia sering menyalahkan pemerintah, lingkungan, atau bahkan menyalahkan presiden. Terkadang ia juga menyalahkan pasangan hidupnya, orangtua, ata saudara yang tidak ada sangkut pautnya dengan usahanya. Bahkan, ia menyalahkan dirinya sendiri, menyalahkan pendidikan atau seminar yang diikuti, menyalahkan umur, dan sebagainya.
Kalau tidak menyalahkan lingkungan, diri sendiri, atau orang lain, orang yang terjangkit BEJ akan berasalan ketika gagal. Misalnya, dengan berkata, “Saya kan masih muda. Masih belum berpengalaman.” Terkadang alasan ini ada benarnya, tetapi perlu diingat bahwa alasan itu tidak ada manfaatnya sama sekali. Mengapa? Sebab, alasan-alasan itu hanya akan membuat dia berhenti berusaha, berhenti belajar dan berhenti bertindak untuk menjadi lebih baik.
Orang BEJ saat bertemu orang yang lebih sukses darinya, ia akan mencibir dan berkata, “Pantas saja dia sukses, sekolahnya kan tinggi, orangtuanya saja sudah kaya, dan saudaranya banyak yang jadi pejabat.” Ia tidak menyadari dan tidak mengakui bahwa kesuksesan orang itu diperoleh dengan belajar. Nah, ketika ia dihadapkan pada contoh orang sukses yang orangtuanya miskin dan saudaranya tidak ada yang jadi pejabat, ia akan berkata, “Saya tahu kenapa ia sukses, orang miskin kan harus mempunyai daya juang yang kuat.”
Itulah pola pikir orang-orang yang tidak mau belajar. Alih-alih memikirkan pelajaran apa yang bisa dipetiknya dari orang lain yang sukses, ia justru mencari-cari alasan, menyalahkan atau menghakimi mereka. Nah, jika Anda ingin sukses, pola pikir seperti itu harus ditinggalkan. Ketika Anda merasa belum sukses, belajarlah. Ketika melihat orang lain yang lebih sukses, cobalah untuk bertanya, “Apa yang dapat saya pelajari dari kesuksesannya yang akan membuat saya lebih hebat, lebih kuat, lebih dahsyat, lebih kaya, lebih sukses dan sebagainya?” Dengan belajar, kita akan maju selangkah lebih banyak dibandingkan orang-orang yang selalu menyalahkan dan mencari-cari alasan.
Cobalah untuk bertanya kepada diri Anda sendiri dengan dua pertanyaan berikut setiap hari dan cobalah untuk emncari jawabannya.
1. Sudah belajar apakah saya hari ini?
2. Pelajaran apa yang akan membuat saya mnjadi lebih baik?
Dengan pertanyaan sederhana tersebut, dan jika Anda terus konsisten melakukan setiap hari, maka Anda akan mempunyai kebiasaan baru, yaitu kebiasaan belajar. Dengan terus belajar, apapun yang akan terjadi dalam hidup ini, kita telah memberi arti dengan menjadi orang yang lebih baik. [Sumber: Kebiasaan Orang-orang Hebat/Karya: Alvin Pratista/Penerbit: Sinar Kejora]

Bencana Akhir Zaman Terjadi Jika 15 Perkara Ini Sudah Dilakukan


PENJELASAN Rasulullah SAW mengenai bencana sering dikaitkan dengan pra-kondisi sebelum terjadinya bencana tersebut. Hadist riwayat Imam Atturmudzi, dan yang menghimpun hadis ini adalah ulama Alwalial annajdwi yang menghimpun 40 hadis yang menerangkan tentang bencana. Ketika dia metafsirkan hadis ini beliau memberi judul “Lima Kedurhakaan / Kemaksiatan yang Dapat Menyebabkan Datangnya Bencana.”
Dari Ibnu Ali bin Abi Thalib berkata, bahwa Rasulullah telah bersabda : “Bilamana umatku telah mengerjakan 15 perkara ini, maka bala bencana pasti akan turun menimpa mereka.” Sahabat bertanya., “Apa 15 perkara itu ya Rasulullah?” Rasulullah bersabda, “Bala akan datang bilamana :
1. Harta Negara hanya beredar (dipegang) di kalangan orang-orang tertentu.
2. Apabila amanah telah dijadikan sumber keuntungan.
3. Apabila zakat dijadikan hutang.
4. Bala akan datang bilamana suami menurut kemauan isteri.
5. Anak durhaka terhadap ibunya.
6. Sedangkan ia berbuat baik kepada teman sebayanya (pada kehidupan keluarga)
7. Menjauhkan diri dari ayahnya.
8. Suara-suara ditinggikan di dalam masjid
9. Pemimpin suatu kaum adalah orang yang terhina diantara mereka.(banyaknya pemimpin yang dipilih dari golonganya sendiri dengan dalih kebenaran menurut golongan mereka sendiri).
10. Seseorang dimuliakan karena ditakuti kejahatannya.
11. Khamer / arak (minuman beralkohol) sudah diminum segala tempat.
12. Kain sutra banyak digunakan oleh kaum laki-laki.
13. Penyanyi disanjung-sanjung.
14. Musik banyak dimainkan.
15. Generasi akhir umat ini melaknat / menyalahkan generasi pertama yakni para sahabat radiallahu anhum ajmain.
Akhir dari sabda Rasulallah SAW adalah : “Maka hendaklah mereka menanti angin merah atau gempa bumi atau mereka dirubah menjadi mahluk yang lain apabila mereka telah melakukan 15 perkara tersebut.”